23/10/2021

True-Love.cz Cerita Misteri, Ramalan Dan Kisah Mistis Dunia

Memberikan Pengalaman Dan membagikan Kisah Misteri Yang Saat Ini Menjadi Bahan Perbincangan Dunia

Cerita Seram Saat Berkerja DI Proyek

5 min read

 

Cerita Seram Saat Berkerja DI Proyek – Kisah ini adalah lanjutan berasal dari cerita “Kerja Malam” namun gara-gara ada beberapa bagian yang dianggap tidak terkait maka ada time skip yang dilakukan oleh penulis. “Hymn for the weekend” merupakan lagu berasal dari band Coldplay dan “Perfect” berasal dari Simple Plan yang selamanya kuputar ketika pagi menjelang, menurutku ini lagu yang cocok untuk mengawali hari membebaskan letih sesudah bekerja.

Cerita Seram Saat Berkerja DI Proyek

true-love – Setelah absen dan turunkan beberapa ember cat yang sudah kosong, aku berlangsung ke warung kopi sebelah timur kantor untuk memesan segelas kopi hitam. Waktu masih menunjukan pukul 4 pagi, aku terhitung mengajak Roni untuk hanyalah ngopi dan berbincang santai sembari menanti teman-teman yang lain selesai turunkan cat dan alat alat lainya, muncul terhitung Able masih turunkan berbagai barang lainya berasal dari di dalam bak mobil truck merah yang terparkir di samping kantor.
Saya memesan 2 gelas kopi untuk kita berdua, aku idamkan mengajak Roni berbincang tentang apapaun yang kalau bisa meremehkan kejadian yang baru saja dialaminya.

Baca Juga : Cerita Misteri, Pengalamanku DIbawah Bangsa Jin Ke Dunia Astral

Setelah selesai, Able berkunjung ke kita yang sedang santai,
“Ngopi aja kaya dukun, cari makan yuk laper nih,” ucapnya mengajak kami.
“Kalau kerja mah kaya orang sakit namun persoalan makan mah kaya orang sehat ya ble,” ejekku kepadanya.
Entah, aku tak nafsu makan, aku cuma idamkan istirahat untuk memulihkan tubuh ini. Tinggal sehari kembali aku bekerja di sini sebelum saat berganti ke daerah lainnya.
Setelah hari terkahir kerja dan beristirahat sepanjang seharian, mandor berharap kita untuk berkumpul di area tengah. Ia hendak mengupas tentang rancangan pekerjaan sesudah itu dan tempatnya. Semua muncul berkumpul kalau Able, tak tau di mana keberadaanya, kemungkinan biasa menelpon janda kampung pujaannya.

Tujuan sesudah itu adalah tol cipularang, mendengar bakal hal itu aku terkejut kaget. Bagaimana tidak, aku sudah banyak membaca artikel dan saksikan vidio tentang angkernya tol tersebut. Bisa dibilang aku tidak senang melalui jalur tersebut namun sial tujuan sesudah itu tambah mengarah ke jalur tersebut.

Saya diam tak menanyakan apa-pun cuma mendengar instruksi berasal dari pak mandor. Sempat curiga untuk melanjutkan pekerjaan ini. Setelah briefing usai, aku coba menanyakan ke para pekerja lainya tentang bagaimana tanggapan mereka.
Ada yang bersikap biasa saja namun ada beberapa orang yang merasakan hal mirip seperti saya, ragu, cemas, takut bekerja di tol tersebut. Kami seluruh dikasih pembagian libur kurang lebih sepanjang 4 hari, banyak berasal dari kita yang pulang ke kampung.
Tetapi aku tidak, aku lebih memilih di sini, di Jakarta nikmati suasan kota yang aku rindukan. Sementara Able dan Roni memilih pulang, aku cuma menitipkan duwit untuk orang tua aku di kampung.
Ketika malam menjelang tetasa sepi dan sunyi, pak mandor pun ikut pulang selagi pak Anton memilih singgah ke saudara yang ada di Jakarta selatan sepanjang 2 hari.

Dua hari berlalu, pak Anton singgah bersama sedikit mempunyai makanan sebagai buah tangannya. Setelah beristirahat beliau mengajak aku untuk ke kantor menemui temanya yang bekerja sebagai petugas patroli jalur di Cipularang, namanya pak Hendrian.
Pria paruh baya yang kemungkinan seumuran bersama ayah aku di kampung. Sayapun bersalaman denganya mengenalkan diri gara-gara selagi itu belum ada virus corona. Beliau muncul ramah dan gampang bergaul, kemungkinan kepoan juga.
Saya pun langsung mendapat banyak pertanyaan darinya. Waktu merasa cepat ketika kita bertiga membicarkan banyak hal, aku pun cepat akrab bersama pak Rian.

Selepas ashar beliau pamit untuk pulang menemui istrinya di kontrakan yang memang agak jauh berasal dari sini. Satu hari berikutnya seluruh orang sudah kembali terhitung Able dan Roni mereka terhitung mempunyai sedikit oleh oleh berasal dari kampung untuk saya.

Satu hari tersisa sebelum saat perjalanan panjang dimulai, daerah baru dipijakan dan tantangan baru dihadapi. Barang sudah dikemas, seluruh baju sudah di masukan ke di dalam tas, bersama menaiki mobil bus berasal dari kantor kita mengawali perjalanan ini.
Kami berangkat selepas selagi dzuhur dangan estimasi perjalanan kemungkinan kita bakal hingga ketika sore hari. Selang beberapa lama mobil yang kita tumpangi sudah memasuki tol Cipularang.
Suasana hutan lebat menyambut kami, begitu indah ketika siang hari namun tidak bersama selagi malam hari. Yap laju kendaraan tersendat, melaju bersama tempo yang lambat. Macet, itu yang kukatakan, gara-gara memandang laju mobil lain yang mirip lambat.
Malam menjelang, selagi yang di perkirakan meleset jauh, kulihat billboard penunjuk arah jalur kita baru hingga Sadang, sebuah daerah di Purwakarta.

Kulihat di goggle maps jarak kita masih jauh bersama tujuan, entah jam berapa aku tidak ingat gara-gara tubuh yang letih seharian cuma duduk di kursi penumpang.
Dari arah depan muncul mobil patroli polisi bersama lampu sirinenya yang menyilaukan mata. Beberapa polisi terhitung bertugas melancarkan arus kendaraan. Terlihat terhitung Beberapa ambulan dan mobil petugas jalan.
Rupanya ada sebuah kecelakaan yang sudah terjadi, mobil truck barang bersama beberapa mobil sedan cuma muncul berasal dari kejahuan karna kita kudu memutar dan menahan berasal dari strip jalur tersebut.
‘Penyambutan macam apa ini’ batinku berkata.

Hingga jam 11 malam kita baru hingga di daerah tujuan, di sebelah gerbang tol muncul di Cimahi Jawa Barat. Kami pun langsung turun untuk melemaskan otot-otot yang tertahan sedari tadi. Suasana begitu sepi dan gelap di sini, kita diantar ke sebuah mes yang bakal kita tinggali nantinya.

Mes yang sudah lama tak terpakai namun bersama suasana yang masih terawat. Namun di arah samping adalah pekarangan yang mengarah langsung bersama jalur tol.
Able menanyakan keberadaan warung di lebih kurang sini, dan rupanya warungnya berada di bawah, sedikit turun melalui undakan yang sudah tersusun bersama pijakan batu alamnya.
Sembari membebaskan letih kita beristirahat di warung tersebut. Memesan kopi, mi rebus dan makanan lainya. Malam ini di lewati bersama seluruh orang yang tertidur pulas gara-gara letih di perjalanan.
Pagi hari menjelang kita ajak untuk survey ke daerah daerah yang bakal kita Mengerjakan nantinya. Di luar dugaanku, panorama di sepanjang jalanya begitu indah memanjakan mata. Hamparan bukit dan persawahan khas perbukitan yang bersusun menjadi panorama utama.
Jalan yang berkelok, menanjak dan menurun menjadi tema utama tol ini. Entah di kilometer berapa aku lupa, aku memandang patung macan dan patung lainya, dan juga batu yang tersusun di samping kiri jalur tepat di lereng bukit yang kita lewati bus di parkirkan di sebelah kantor ini.
Kami pun turun untuk beristirahat dan memesan makanan di warung kemarin. Bu Ade pemilik warung banyak bercerita tentang apa-pun yang dia ketahui. Mulai berasal dari orang-orang di sini hingga mereka yang tak kasat mata.
Setelah kenyang, saya, Roni dan Able menentukan untuk menuju mes hanyalah merenggangkan otot dan membaringankan badan. Kami terhitung mempunyai kopi yang sudah diseduh dan benerapa makanan gampang untuk menemani selagi bersantai kita gara-gara besok malam kita merasa bekerja.