23/10/2021

True-Love.cz Cerita Misteri, Ramalan Dan Kisah Mistis Dunia

Memberikan Pengalaman Dan membagikan Kisah Misteri Yang Saat Ini Menjadi Bahan Perbincangan Dunia

Perjalanan Di Kegelapan Part 2 | Cerita Misteri

5 min read

true-love

true-love

Perjalanan Di Kegelapan Part 2 | Cerita Misteri – Siang hari itu, aku berangkat berasal dari rumah bersama dengan istri aku Imas terhadap pukul 17.00 dan berkumpul untuk menegaskan ulang sangkar sangkar Robin, dan ternyata kera itu tidak sendiri. kataku di dalam hati sambil berjabat tangan.

Perjalanan Di Kegelapan Part 2 | Cerita Misteri

true-love – “Sekarang udah malam. Nanti anda dapat terlambat ke penata rambut. Kasihan David, tentu saja, menunggu kedatangannya,” kata Imas.
Perlahan-lahan aku menjadi lebih baik dan sekarang aku tidak sangat memikirkan monyet, tetapi aku merencanakan untuk tinggal di rumah Boo Budi, tetapi tanpa alasan yang mengetahui aku tidak mengetahui mengapa aku berhenti perlahan.

Baca Juga : Perjalanan Di Kegelapan Part 1 | Cerita Misteri

“Mama maju saja dan jangan ulang ulang nanti. Kalau masuk ke di dalam anak-anak, nanti berantakan,” kata Imas sambil mendekati rumah orang tuaku, tidak jauh berasal dari rumah..Rumah.
“Ya, apakah anda dapat ke penata rambut?” Aku menjawab perlahan.
“Halo! Katanya rela ke Boo Budi. Maaf mampir dan terima kasih. Itu bukan perihal yang buruk,” jawab Imas bersama dengan sedikit mendengus.
Pada akhirnya, aku kebetulan pergi ke salon kecantikan lewat rumah Boo Budi. Tidak sangat jauh berasal dari tempat tinggal aku ke penata rambut, dan kecepatan biasanya 15 menit berkendara bersama dengan kendaraan roda dua udah tentu tiba.
Belum lama ini, aku berada di luar Boobdi, di depan pintu masuk, yang sesungguhnya merupakan rumah terbesar di tempat tempat aku tinggal, tetapi hanya sebagian mobil yang diparkir di halaman rumahnya. .. Rumah. Tidak tersedia orang layaknya dia.
“Um… aku rela telat ke salon. Aku rela ke Boobdi. Aku butuh. Kalau rela pulang tentu oke, serahkan ke Yayan.” Obrolan yang aku kirim ke Daud.
“Tentu saja, dapat memakan pas lama bagi Oh untuk menjawab. Setidaknya tersedia banyak orang di dalam antrean untuk dipotong,” kataku terhadap diriku sendiri, hanya menyalakan sebatang rokok dan menyaksikan sekeliling. Aku idamkan seseorang melihatnya. Tiba-tiba , aku menyaksikan seorang wanita tua berjalan ke arah aku berasal dari kejauhan. Aku masih duduk di atas motor.

“Terima kasih, Andy, Tuhan. Ibu menunggumu di dalam. Silakan masuk,” kata wanita tua itu sambil membuka pintu.
“Ya, ya, ibu, aku minta maaf pada mulanya mengapa Anda segera mengetahui nama saya.” Saya mencium tangannya dan berjabat tangan.
“Kamu bilang anda tengah bicara bersama dengan istri Andy, menjadi saat anda menyaksikan ke luar jendela, anda disuruh segera membuka pintu,” wanita tua itu menjelaskan.
Segera aku memarkir mobil aku di di dalam dan duduk di tempat parkir di sebelah mobil yang mengantri.
“Aku masuk ke di dalam untuk pertama kalinya dan mendapatkan bahwa tersedia lebih banyak barang di gedung apartemen ini,” kataku terhadap diri sendiri.
“Ayo, Andy, tersedia sebagian pendeta yang baru saja selesai membuat sembuh dan tidak duduk,” kata wanita tua itu sambil membuka pintu.
Tentu saja, tersedia termasuk tiga orang bersama dengan pakaian rapi. Saya segera menyambutnya bersama dengan topi tengkorak dan, tentu saja, sorban.
“Assalamualaikum …” -Saya berjabat tangan, mencium tangan tamu, dan wanita yang lebih tua adalah seorang pendeta dan tidak meniadakan Pak Budi yang sangat terkumpul.
“Hmm, silakan duduk,” kata Budi bersama dengan ramah.
Saya sangat sopan sekaligus dan duduk bersama, tetapi tiga orang berikutnya bisa saja menjadi tidak nyaman bersama dengan kehadiran saya. Karena meskipun dia tidak mempermalukan atau mempermalukan saya, tatapannya mengetahui dan curiga.

Aku hanya menyaksikan mereka bersama dengan senyuman.
“Sebelumnya, ibu Asar pulang ke rumah murung setelah bersama dengan Andy. Dia bilang bukan kebetulan bersua dengannya.
“Iya pak, aku sangat menyesal mampir ke sini, tetapi aku tidak idamkan berterima kasih kepada ibu aku yang idamkan pergi ke tempat aku tinggal. Saya sangat menyesal saat dia di rumah.” Kakek, nenek. Kataku perlahan .
“Ndy, apakah istri anak Andy memberi tambahan pesan kepada anak Andy nanti anak Andy mampir ke sini?” bertanya Bu Budi.
“Terima kasih, istri. Tapi aku di sini lagi. Terima kasih, pergi saja. Semua orang idamkan pergi ke penata rambut,” kataku perlahan bersama.
Tiga tamu lainnya masih terperanjat menyaksikan saya. Aku tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan. Ketika aku baru saja selesai berbicara, tiba-tiba aku mendengar nada lain layaknya monyet, yang aku dengar dan ingat bersama dengan benar. Postur aku adalah tangga asli dan monyet. –Monyet-monyet itu bisa saja nampak serupa di dekat kandang Robin terhadap awalnya, tetapi sekarang mereka turun satu per satu dan senantiasa di tangga. Ada sangat banyak monyet.
“Putra ke-2 saya, Seri, udah lama sakit, dikarenakan alasan medis, dan bapak-bapak mengusahakan menyembuhkannya, tetapi hasilnya senantiasa sama, dan dia senantiasa muntah darah,” kata Park Budi pelan-pelan.
“Itu mesti beralih menjadi medis, bersama dengan muntah darah layaknya itu, tetapi dokter senantiasa mengatakan: Anak-anak ibu tidak lumayan istirahat.
“Misalnya, aku sangat menyesal ibu dan ayah aku membuktikan kesombongan. Saya termasuk tidak mampu membuat sembuh orang sakit, untuk berterima kasih kepada ayah dan ibumu,” kataku pelan.

Baru saja aku selesai, tiba-tiba nenek yang pertama berhenti membukakan gerbang untukku, turun bersama dengan muka gelisah dan tergesa-gesa.
“Maaf bu. Seperti biasa, mereka tidak mampu duduk lagi. Muntahnya makin lama parah, sehingga menutupi muka saya. Saya mencoba menekannya, tetapi energinya meningkat.” Kata wanita tua itu. Panik.
Kata-kata wanita tua itu mengejutkan seluruh tempat tamu. Segera setelah Bu Budi naik ke atas di rumah, tiga orang bergegas masuk dan aku masih duduk berdua bersama dengan Park Dharma. Bukankah binatang itu menyaksikan banyak kera?” kataku terhadap diri sendiri.
“Andy, tolong, ayah, Seri udah lama sakit. Ini tidak normal. Tolong …” –Budi bicara sangat sedih.
Sungguh tak tertahankan menyaksikan orang layaknya itu, tetapi aku termasuk mempunyai anak, menjadi aku mengetahui bahwa cinta orang tua aku kepada anak-anak mereka serupa jujurnya bersama dengan saya, tidak acuhkan seberapa tidak baik mereka.
Aku diam dan menyaksikan tangga di mana banyak monyet masih diam, dan Park Budi tidak bicara apa-apa lagi, hanya menatapku bersama dengan takjub.
“Apakah Andy menyaksikan layaknya apa? -Tanya Pak Budi.
“Tidak, aku dapat menyaksikan orang lain tak hanya Seri. Jika yang menguasai Bumi dan isinya (Allah SWT) memaafkanku dan membuat sembuh anakmu, Jika Tuhan berkehendak, aku dapat berusaha—pelan-pelan kataku bersamaan. .
Keringat di tubuh aku berangsur-angsur hilang, dan aku menjadi mual pas berada di rumah. “Apa yang mesti aku lakukan, monyet-monyet di rumahku membuatku muntah,” kataku terhadap diri sendiri.
“Alhamdulillah, oke Ndy, ikut aku ke kamar anak saya,” jawab Budi pelan.
Anehnya, pas Pak Budi melewati monyet-monyet itu, tiba-tiba monyet-monyet itu nampak bersemangat. Suaranya berisik, berisik. Abaikan dan naik tangga satu per satu.