23/10/2021

True-Love.cz Cerita Misteri, Ramalan Dan Kisah Mistis Dunia

Memberikan Pengalaman Dan membagikan Kisah Misteri Yang Saat Ini Menjadi Bahan Perbincangan Dunia

Perjalanan Di Kegelapan Part 4 | Cerita Misteri

4 min read

true-love

true-love

Perjalanan Di Kegelapan Part 4 | Cerita Misteri – Saya segera meninggalkan penata rambut, duduk di tempat kopi Yayana, merokok dan bernyanyi.
“Jan, apa yang kamu lakukan?” Tanyaku.

Perjalanan Di Kegelapan Part 4 | Cerita Misteri

true-love – “Ya nggak apa-apa, biayanya anakmu masuk TK,” jawab Yayan sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, hari ini sepi,” kataku.

“Kok kios ini nggak dipotong? Kalau slasher, kan penuh. Sudah juga order,” jawab Yayan sambil duduk di sebelahku.
Itu benar, sayangnya aku hanya punyai dua kursi pangkas rambut, tetapi aku mampu membuat Yayan mempunyai pekerjaan saya, supaya toko itu penuh sesak.

Baca Juga ; Perjalanan Di Kegelapan Part 3 | Cerita Misteri

“Oh, aku tidak paham apa yang berlangsung jikalau bukan gara-gara Anda,” tiba-tiba Yayan berkata.
“Apakah ini salahku? Tidak mungkin. Apa kamu mulai lupa?” jawabku.
Kata Yayan sambil tersenyum malu.

“Ya, Jean, akhirnya, aku akan berikan Anda, semua orang di dalam bisnis Anda, istri dan anak-anak Anda, milik Anda sendiri, juga mereka yang mendoakan kami. Dapat mendukung. Mengedipkan mata.
Saya mengucapkan Yayan berkali-kali, dan aku dan Yayan menertawakan kata-kata itu, tetapi bukankah saling mengingatkan itu wajib?

Sekitar pukul 02:00 malam ini, penata rambut tutup dan tidak memasukkan jumlah pemangkasan kepala malam ini, tetapi banyak cerita yang aku dengar dan pembicaraan hangat di tempat kerja. Penelitian berasal dari orang lain, jadi masih diperlukan.

“Aku akan kembali ke tempat tinggal dulu terhadap bulan Januari,” kataku sambil membersihkan tukang cukur.
“Ya, ya, Yayan, dia mengidamkan menyingkirkannya,” jawab Yayan.
Saya pada akhirnya sampai di rumah, masuk ke kamar saya, mandi dan mencukupi tugas saya, dan sebelum saat tidur aku mencukupi tugas saya.

Kenapa kamu tampan dan menggangguku? ”
“Siapa kau?” kataku juga kaget.

“Tidak, anak itu udah jadi milikku. Ayahku memberiku seorang anak. Jangan khawatir. Mengerti!” bentak seorang wanita cantik dengan keras.
Aku masih terjaga dan belum tidur, jadi aku membuka mataku perlahan.
“Pak Budi,” kataku.

Saya punyai tugas dan kudu banyak cerita ke Pak Budi. Besok aku kudu bertemu.
Kesepakatan dengan dunia lain, terhadap kenyataannya, tetap kesepakatan, dan umumnya makin lama ketat kesepakatan itu dihormati, makin lama ketat mereka, dan perjalanan aku jadi lebih percaya diri berasal dari th. ke tahun. Tahun 2000 adalah perjalanan misterius yang penuh dengan pengalaman dan cerita.
“Um… aku akan menjemputmu sesudah sholat subuh. Aku di tempat aku mengidamkan tidur,” kata Imus di dalam ringkasan obrolan.
Memang, bertukar kabar dengan imas umur menikah yang udah berlangsung lama adalah tidak benar satu cara untuk tetap rukun dengan keluarga kecilku.

Terkadang itu menghibur saya, tetapi evolusi saat dengan semua tehnik canggih kudu membiasakannya dan tetap membiasakannya.

Bahkan jikalau aku coba untuk tenang, aku masih punyai pelelangan di kepala saya, tetapi sepertinya itu tidak sesuai untuk saya.

Mengingat kata “perjanjian” keluarga Park Budi, aku berkata, “Tidak baik menyalahkan orang yang hidup gara-gara tidak bertanggung jawab.”

Lambat laun mata mulai damai terhadap diri sendiri, menghendaki maaf kepada pencipta hari ini atas segala kekeliruan yang tidak aku sadari, dan menerima kasih atas semua kelancaran yang aku alami hari ini-inilah formalitas yang tetap aku ikuti. Keberkahan akan tetap bertambah…

“Ash-sha laatu hairum minan-nauum” mampir berasal dari nada berdoa ke masjid, cepat membuka matanya perlahan dan tidak mulai amat mengantuk, tetapi dia mulai lebih baik santai.

Jangan lupa berikan makan Robin, ayam yang aku pelihara sejak aku masih kecil, sesudah merampungkan peran saya, dan sungguh fantastis ayam-ayam lain bernyanyi di pagi hari. suara.
Begitu selesai, aku mengeluarkan sepeda motor dan perlahan berlangsung menuju tempat tinggal ibuku. Itu benar dikala Anda sampai di tempat tinggal dan masuk ke di dalam rumah, gara-gara papa aku yang udah tua umumnya mampir di pagi hari yang masih gelap dan menceburkan diri ke ladang.

“Assalamualaikum” dan aku pergi ke dapur dan mencium tangan ibuku. Padahal, umumnya ibu-ibu memasak di pagi hari seperti ini untuk mengantarkan makanan ayahnya ke ladang yang tidak jauh.

“Varaikumsalam,” jawab ibuku, juga Imas.
“Bagaimana Sunny, anak Budi? Sang Idolm@ster menceritakan kisah ini tadi malam,” tanya sang ibu penasaran.
“Iya istriku, sakit, tetapi berkat kamu, aku jadi lebih baik,” jawabku dan nikmati kopi Imas.
“Tersebar desas-desus di kalangan ibu-ibu peneliti bahwa anak-anak mereka dikorbankan oleh keluarga mereka,” kata Imas, tawarkan singkong goreng.

“Ngomong-ngomong, aku tidak paham ibu yang suka membaca Alquran, jadi enteng berisik seperti ibu, seperti ibu. Belajar itu biasa. Ilmu yang Anda memakai untuk orang lain. Melengkapi penjelasan kesalahannya. Baiklah, peduli dulu, aku mengatakannya lagi.

Imas dan ibuku pasti udah memahamiku dengan baik, hanya tersenyum dan tidak berusaha membersihkan keburukan orang lain.
“Kami serupa-ini adalah kumpulan dosa”,
“Iya bu, ingat Ndy. Kalau bisa, sayang sekali jikalau tidak hanya menolong secara finansial, tetapi kita juga punyai tanggung jawab hidup,” kata ibu yang duduk di sebelahku.

Giliran aku untuk ibu aku dan Idolmaster untuk membuat aku tersenyum. Bahkan, aku tetap suka dengan kondisi yang menghiasi hidup saya, dan aku berkomunikasi secara semi-permanen dengan alam lain, berkat aktivitas aku yang amat manusiawi.

Anak-anak belum bangun, dan Imus berniat mengantarkan makanan ke sawah dengan ibunya, jadi aku pikir aku akan beristirahat di tempat tinggal ibu saya, membaca buku, dan selesai membaca beberapa kali.
Sepertinya aku tidak bermain dengan anak-anak aku selama hari, juga mengobrol dengan papa saya. Bahkan, aku kudu mengawali kembali sesudah itu untuk kembali ke ibu saya, juga papa saya.
“Guru, ingatlah besok adalah hari Jumat. Amplopnya udah siap keesokan harinya,” tanya saya.

Paus menjawab sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, semoga membawa kebaikan untuk kita semua,” kataku pamit.
Dalam perjalanan pulang, aku tetap tersenyum dikala mengingat kata-kata orang yang mengatakan, “Andy adalah orang yang ajaib, orang yang cerdas, dan sembuh.” .. “Amal”. “.
“Ya, aku akan segera ke penata rambut,” kataku pamit terhadap Idolmaster.
“Ganti bajumu dulu,” jawab Idolmaster.

Aku segera turun dan bergeser pakaian, tetapi dia tetap sama, ceroboh, dan muncul amat polos.
“Aku mengidamkan menyingkirkan celanaku yang sobek, tetapi bagaimana aku mampu bad mood jikalau tidak punyai celana yang pas,” tegur Imas.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan berpamitan, menghendaki Idolmaster berdoa supaya pekerjaan berlangsung lancar, dan segera meninggalkan tempat tinggal Park Budi dan kembali. Niat untuk berhenti amat besar, tetapi keyakinan aku bertemu Pak Budi di penata rambut makin lama besar, meski berlangsung amat lambat di depan tempat tinggal Pak Budi.