23/10/2021

True-Love.cz Cerita Misteri, Ramalan Dan Kisah Mistis Dunia

Memberikan Pengalaman Dan membagikan Kisah Misteri Yang Saat Ini Menjadi Bahan Perbincangan Dunia

Perjalanan Di Kegelapan Part 7 | Cerita Misteri

4 min read

true-love.

true-love.

Perjalanan Di Kegelapan Part 7 | Cerita Misteri – Malam ini terlalu mengganggu untuk dibingungkan bersama apa yang aku rasakan, gunturnya terlalu kuat, lebih-lebih menyalakan ponsel aku dan hanya berikan sadar berita tambahan, terlalu menyebabkan aku takut.

Perjalanan Di Kegelapan Part 7 | Cerita Misteri

true-love – “Apa yang terjadi di sini lagi?” -Saya segera menyembah Sunnah. Hujan makin deras untuk menenangkan pikiranku, seolah-olah orang tidak tengah melihat ke rumah.
Saya berikan sadar Yayan.
“Kamu dimana?” bertanya Yayan.

Baca Juga : Perjalanan Di Kegelapan Part 6 | Cerita Misteri

Saya tidak menjawab, aku hanya salat bersama tangan, tapi Yayan mengetahuinya bersama baik.Segera sehabis melakukan ibadah sunnah, aku kembali ke toko rias.
“Itu ponsel di istana. Itu berdering, tapi perlu uang,” kata Yayan.

Saya tidak menjawab. Elangnya terlalu penting. Saya tidak merasakan apa-apa, aku segera melihat telepon, dan yang tentu jumlah panggilan dari imas delapan kali lebih banyak. Saya terhubung isi pembicaraan sekaligus.

“Innal illahi wa inna ilaihi rajiun…” kataku menggigil, segera Mengenakan mantelku, menyisir sisa rambutku, dan menutup penata rambut.
“Di mana terburu-buru?” Tanya Yayan.
Saya tidak bisa menjawab, aku hanya menunjuk jalur pulang, Mengenakan helm, dan segera mempunyai kendaraan roda dua ke rumah Pak Budi.

Tak lama sesudah itu lebih dari satu orang datang, dan begitu pintu gerbang dibuka, lebih dari satu orang mengibarkan bendera kuning bersama gendang besar di tepi jalur dekat rumah Park Budi.
Saya segera terhubung halaman, lebih dari satu orang melihat aku bersama mata aneh, tapi jikalau Anda terlalu mengenal saya, dikala aku turun dari sepeda, jam tangan sudah keluar terhadap pukul 02:00 malam.

Aku menarik napas dalam-dalam dan segera masuk ke rumah Pak Budi. Beberapa orang sudah membaca Al-Qur’an di sana.

“Baru 30 menit yang lalu, dikala ayah aku selesai berdoa untuk melihat apa yang terjadi terhadap Seli, siapa yang sadar ibu Ndi,” kata Park Budi, aku berjabat tangan dengannya dan menciumnya.
“Innal illahi wa inna ilaikhi rajun” kataku sambil melihat jenazah orang yang sudah meninggal, sudah tergeletak berbalut kain.

Saya melihat wajah Pak Budi yang merah. Jejak air matanya, lebih-lebih gara-gara hilangnya nyawa, begitu lumrah sehingga tetap ada jutaan cara didalam hidup untuk menciptakan kehidupan.
“Alhamdulillah, ayah aku mau. Diterima atau tidak persoalan ini, niatnya lebih kuat dari pengobatan. Tidak ada yang lebih dari itu,” kata aku kemudian. ..

Pak Budi hanya mengangguk dan menuduh banyak orang yang mampir kepadanya punya duka yang sama.
Saya segera mengambil tempat itu dan bisa bersama cepat membaca Al-Qur’an untuk almarhum, rumah itu penuh dan terlalu lengkap, dan perlu waktu tidak cukup dari satu jam untuk duduk dan membaca Al-Qur’an. ..

Penduduk mampir satu demi satu dan berdoa untuk jiwa-jiwa. Saya selesai membaca Quran, menjadi aku segera bangun. Lebih banyak orang mampir gara-gara diumumkan (lebih tepatnya) jumlah masjid besar.

Ketika aku mendorong perlahan dan melihat ke pintu, aku bisa melihat rumah itu lagi. Saya tidak sadar mengapa. Saya berbalik dan melihat kembali ke mayat itu.

“Bismira…”-ucapku pelan didalam hati yang paling dalam.
Saya melihat seorang Laki-laki tua bersama sorban turun ke dadanya. Dia tersenyum padaku bersama topi tengkorak putih yang aku kenal. Senyumnya terlalu manis…
Guru, kataku terhadap diri sendiri.
Orang tua itu hanya mengangguk dan tersenyum, menjadi aku mengangguk dan menjawab, menganggapnya sebagai senyum paling kuhormati.

“Punten”,
“Ya, aku minta maaf,” jawab saya, tapi itu terlalu halangi jalur bagi orang lain.
Aku berpindah pakaian dan melihat kembali ke arah guru. Tidak ada guru. Segera aku membaca doa di hati aku dan duduk sambil tersenyum.

“Tentu saja Alhamdulillah bahagia bisa berjumpa Tuhan kembali bersama penjelasan dari seorang guru yang sudah lama tidak bertemu,” kataku didalam hati.
Saat fajar menyingsing, rumah menjadi lebih dan lebih memenuhi, dan aku duduk bersama keluarga aku dan bahkan hanya warga yang dambakan ikut berdoa.

Saya seluruhnya sadar bahwa Tuhan kehidupan bukanlah manusia, tapi Pencipta Yang Mahakuasa, tapi aku tetap disalahpahami.

Bukannya duduk di depan rumah Pak Budi, ia hanyalah mengobrol bersama Imas, mengumandangkan adzan subuh, dan lebih banyak orang yang mampir ke rumah Pak Budi.

Saya segera bangkit, melacak keberadaan Pak Budi, dan berpamitan. Aku melihat Park Budi mengobrol bersama banyak orang.Park Budi bangkit dari duduknya begitu melihatku terjadi ke arahnya.
“Guru, izinkan aku mengucapkan selamat tinggal,” kataku.

“Terima kasih, Ndi, aku dapat pergi ke penata rambut lain kali, menerima kasih sudah mengingatkan saya, aku sadar bahwa ini adalah risiko. Dulu, dikala aku kehilangan saudara perempuan saya, itu terlalu menyakitkan. Nak”,- Kata . … Bangun perlahan.
“Oke, aku tunggu kedatangannya.” Saya menyuruhnya melanjutkan, dan Pak Budi sudah ditegur, menjadi dia segera berjabat tangan bersama Pak Budi dan segera meninggalkan rumah Pak Budi.

Dalam perjalanan pulang, sepeda motor yang aku tumpangi terlambat. Saya berterima kasih kepada Sang Pencipta, yakin bahwa tekad Sang Pencipta di luar permukaan bumi ini adalah yang terbaik, dan kematian dipertimbangkan.

Perjanjian yang tepat adalah pembayaran yang wajib Anda simpan, “kataku terhadap diri sendiri.
Sesampainya di rumah, Imus berjumpa bersama Imus yang mencemaskan kondisiku.
“Oh, suka?” -Imus duduk di sebelahku dan bertanya.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Saya tidak membenci Pak Budi atau keluarganya di jaman lalu. Saya hanya menyesali kesalahan ini.”
“Benarkah yang dikatakan banyak orang mengenai pengorbanan?” bertanya Idolmaster.

“Saya tidak tahu, tetapi apa yang saya pahami dalam dua hari terakhir tidak menghapus tuduhan dan tidak memperhitungkannya. . Ada cara lain untuk mengakhiri ini untuk Anda. Bagaimanapun, tanggung jawab sebenarnya untuk ini. adalah kehidupan.

Imas tidak menjawab kembali dan segera memelukku. Aku sadar ini pelukan terhangat ke-2 sehabis ibuku. Jalan hidupku dan perjalanan misteriusku sepanjang ini.