23/10/2021

True-Love.cz Cerita Misteri, Ramalan Dan Kisah Mistis Dunia

Memberikan Pengalaman Dan membagikan Kisah Misteri Yang Saat Ini Menjadi Bahan Perbincangan Dunia

Perjalanan Di Kegelapan Part 8 | Cerita Misteri

5 min read

true-love

true-love

Perjalanan Di Kegelapan Part 8 | Cerita Misteri – Ini terjadi sepanjang tiga hari, dan berita di tempat saya terlalu ramai sejak putri Budi, Seri, pergi. Wajar kalau keluarga Budi adalah orang paling terkenal di sini. Tetapi untuk sebagian alasan, orang menjadi lebih mudah memiliki ide yang buruk daripada memprioritaskan yang baik.

Perjalanan Di Kegelapan Part 8 | Cerita Misteri

true-love – Bahkan mereka yang paham bahwa Pak Budi telah tiba di penata rambut saya sering bertanya kebenaran perihal penyebaran berita tersebut, tapi saya tetap menjawab bersama dengan rendah hati. Ketahuilah layaknya ini: “Ini tetap merupakan jawaban yang paling safe dan jangan ajukan pertanyaan lain.

Baca Juga : Perjalanan Di Kegelapan Part 7 | Cerita Misteri

Pada malam hari ketiga sesudah Seri pergi, saya menjadi canggung, dan terhadap malam saat Seri pergi, saya meraih kembali kekuatan saya, dan saat saya menyaksikan suami saya melarikan diri dan tersenyum, itu adalah pertama kalinya saya membiarkan ini. Master mampu digunakan di didalam enklosur, yang tidak biasa bagi saya.

Saya pulang dari salon rambut lebih kurang jam 2 pagi. Sebenarnya, orang tidak berhenti bekerja, dan bahkan di akhir pekan, telah waktunya orang pulang dan pergi melihatnya.

Ketika saya hingga di rumah dan terhubung ke pintu, saya memarahi Imas yang tengah tidur dan mencium kening saya.
“Dan sesampainya di rumah, apakah Idolmaster menyeduh kopi?” kata Idolmaster masih mengantuk.
“Hmm… tidurlah sekarang. Aku dapat melakukannya sendiri, ibu yang malang, pasti saja saya lelah menjaga ke dua pahlawan itu.” Aku mencium kening Idolmaster kembali dan menjawab sambil merapikan selimut Idolmaster. …
Sang idola @ster hanya tersenyum. Itu adalah obat paling baik untuk kelelahan. Segera saya menemukan bahwa dua anak yang serupa telah tertidur lelap. Segera sesudah mandi dan pergi ke sunnah sore, saya berbaring di tempat tidur di sebelah Imas.

Dengan mata yang terlalu butuh istirahat, perlahan kupejamkan mataku dan ikuti kemauannya untuk memejamkan mata.
“Assalamu’alaikum”,

Suara samar yang kukenal bertahun-tahun yang lantas saya percaya saya tidak tidak benar kembali saya pergi ke pintu begitu mendengar suara ini dan terhubung pintu Tentu saja saya perlahan menangis dan mencium tangannya Lembut Dengan perasaan.
“Guru Valai Kumsalam” jawabku dan duduk untuk menemuinya.
“Itu tidak terjadi lama, kesalahanmu membuangnya. Bukan milik kami untuk pergi. Adalah tugas kami untuk mendukung siapa yang dapat hidup tetap sesudah ini. Kita tidak mampu mempengaruhi jaman lalu. Kamu bahkan tidak mampu paham jaman depan. Tidak sepenuhnya adalah kekuatan kita, itu adalah kekuatan pencipta kita. ”Asahlah pengetahuan Anda bersama dengan menjaga anggapan Anda tetap rendah hati, mendukung dan berikan bersama dengan langkah ini,” kata guru. T.

Air mata yang saya tahan jatuh layaknya yang saya inginkan, dan air mata yang tenang hanya terdiam saat saya mendengar kata-kata suara samar penuh cinta dan kasih sayang.
“Baik, Guru,” jawabku terlalu pelan.

Perlahan dan cepat saya menatap wajahnya lagi, dia menghilang di depan pintu, dan segera kembali menutup pintu perlahan, perlahan terjadi menuju kamar, dan menyaksikan tubuhku yang tertidur, saya kembali bersama dengan kata-kata penghiburan yang terlalu saya butuhkan.

Perjalanan misterius saya diawali terhadap hari ibu saya sakit dan pernikahan saya tidak lumayan baik. Saya laki-laki, satu dari empat bersaudara, tapi saya memiliki satu kakak perempuan dan dua adik laki-laki dan perempuan.

Penyakit sang ibu, terhadap kenyataannya, kritis terhadap selagi yang serupa untuk sebagian waktu. Sebagai seorang anak, saya belajar bermacam disiplin agama dan sosial bersama dengan banyak pergaulan dan teman.

Sangat mutlak bahwa pria pertama yang dicermati menjadi tanggung jawabnya kepada keluarganya. Orang-orang bijak berkunjung karena menurut arahan bapak saya, saya kudu tetap menyerahkan kuantitas amplop yang sesungguhnya untuk tiap tiap perawatan, tapi untuk obyek lain kalau saya memiliki lumayan bagian keluarga, Anda mampu menggunakannya.

Dari awal persyaratan yang masuk akal dan tidak masuk akal serupa sekali tetap dipenuhi, selagi berobat tidak mampu ditolerir karena keadaan ibu, hanya demi kesembuhan ibu, meski biayanya sesungguhnya tidak sedikit. langkah-langkah medis yang menghambat pelaksanaan. diambil.

Saya baru saja menikah bersama dengan Idolmaster tahun itu dan terluka kritis bersama dengan keadaan medis ibu saya, dan malam itu saya menghendaki Idolmaster menginap di rumah ibu saya, tapi terhadap selagi itu saya tidak memiliki anak.
Pada hari ke 9, Ibu bermimpi, saya tidak paham sakit layaknya apa yang dia derita, dia terlalu tidak mampu dipahami, dan dia idamkan menyembuhkannya sebanyak yang dia bisa, dan ini adalah obat saya, saya saya mendukung sebagian orang di sana.

Setibanya di rumah ibu saya, dua pemuka agama yang terlalu terkenal mencoba menyembuhkannya, tapi semua keluarga telah berkumpul. Melihat ini, kalau saya seorang wanita, saya dapat berhenti untuk menyaksikan ibunya dan sesudah itu menangis.

“Hei, lepaskan, bu, maaf. Dia bilang itu tidak lama,” kata ayahku, menatap ke tempat ibuku berbaring.

Belum sempat kujawab, air mata perlahan mengalir, dan bersama dengan didalam hati, “Kekuatan Allah SWT terlalu kecil untuk hidup dan mati bersama dengan kekuatannya, bukan kekuatannya, tapi kekuatan makhluknya. t dari, saya cepat mundur perlahan.Minum air untuk mandi memicu hati saya berdoa.

Tidak tersedia kebencian atau perasaan didalam kata-kata ayahmu. Saya suka paham bahwa Anda telah disembuhkan. Saya berjanji untuk jujur, bersama dengan izin Yang Mahakuasa, mereka yang berkuasa. Bahkan, didalam doa yang saya panjatkan, air mata mengalir ditumpahkan sebagai jawaban atas cinta ibu dan cintaku, saya percaya kami mampu menembusnya.

Segera kembali ke ibu saya yang berbohong, keluarga dan keduanya masih ada. Aku memegang segelas air di tangan kananku, segera menuangkannya ke ibuku, dan perlahan-lahan mengalungkannya di lebih kurang telingaku.
“Bismira, istri, Andy idamkan ibu baik-baik saja,” Andy bertanya padanya, dan bersama dengan izinnya, ibu kudu bangun dan baik-baik saja, istri, Bismira.

Perlahan saya terhubung mulut ibuku, tempatkan ujung gelas berisi air, nafasnya sesuai bersama dengan perkataanku, tenggorokannya tidak menolak, bergerak perlahan, dan sedikit demi sedikit air ibuku “Allah, saya ikhlas-aku ikhlas, lepas dari kehendakmu- kataku gemetar didalam hati.
Tiba-tiba mata ibuku terbuka perlahan dan terlalu pelan. Garis pandang kosong, terlalu kosong, menatap atap rumah. Setelah sebagian detik, matanya terbuka dan perlahan menatapku bersamaku.
“Andi,” ucapnya pelan.

“Ya, ibu itu adalah Andy. Istrimu,” jawabku sambil menangis untuk pertama kalinya sebagai laki-laki.
Saya segera memeluk ibu saya, menangis bersama dengan haru, terbangun dari penyakit aneh dan mimpi yang tidak mampu dipahami, dan sejak itu saya mengupayakan konsisten berikan untuk kesembuhan ibu saya. Saya telah siap. Saya paham bagaimana rasanya menghabiskan banyak duwit untuk pengobatan.