21/09/2021

True-Love.cz Cerita Misteri, Ramalan Dan Kisah Mistis Dunia

Memberikan Pengalaman Dan membagikan Kisah Misteri Yang Saat Ini Menjadi Bahan Perbincangan Dunia

Perjalanan Di Kegelapan Part 9 | Cerita Misteri

6 min read

true-love

true-love

Perjalanan Di Kegelapan Part 9 | Cerita Misteri – Tahun 2007, awal pernikahan bersama Imas, 3 tahun. Dulu, kala saya berpindah pekerjaan sebagai penata rambut (saya memiliki penata rambut), terhadap mulanya saya adalah penjaja manisan martabak, tempat yang saya menjual adalah satu jam perjalanan berasal dari rumah, di sebuah kota dekat danau, di mana orang-orang berada. umumnya ramai, meski jualan mampu buat jemari.

Perjalanan Di Kegelapan Part 9 | Cerita Misteri

true-love – Yogi adalah teman saya yang membawa resep martabak sebab sesungguhnya terlampau diturunkan oleh keluarganya, bersama persetujuan modal yang saya keluarkan terlampau terbatas, maka saya dan Yogi sepakat untuk memulai usaha, tampilan saya adalah keperluan itu. Seperti sebelumnya, di sini tidak serapi dulu.

Baca Juga : Perjalanan Di Kegelapan Part 8 | Cerita Misteri

Setelah shalat ashar, saya dan Yogi yang sesungguhnya dekat bersama tempat tinggal ibu saya (yang sementara itu masih tinggal bersama ibu saya), kita selamanya bergaul bersama adonan martabak dan segala perlengkapan berdagang lainnya. . .
Butuh sementara nyaris 3 bulan dan itu terlampau pergi selamanya, sedangkan prediksi saya bahwa itu harusnya berakhir terhadap perjalanan yang berlangsung cukup lama selama 1 jam sebab mesinnya terlampau bergerak terlampau lambat, Anda sadar itu telah tua sepeda motor.
“Ndi, semoga hari ini cepat selesai,” kata Yogi sambil mengendarai motornya.

“Aamiin Gan, untungnya anda mampu beli, jangan mabuk, pipa, katanya puas menikah,” jawabku sambil tertawa.
“Oh konsisten melarang, tetapi saya ketahuan mabuk, anda tidak memarahiku,” kata Yogi kesal.

“Ya, saya mabuk lagi, cobalah lagi, lebih baik anda cari duit sendiri,” jawabku bercanda.
Sedangkan para yogi masih puas bersenang-senang, saya cuma mampu mengingat dan sadar bahwa teman-teman saya dan lingkungan yang mendukung saya terlampau bahagia, apa yang mampu saya lakukan, waktunya akan datang, itu juga akan berhenti.

Sampai di wilayah jam 4, menjelang siang baru selesai packing, sepeda motor berhenti dan memesan 2 paket.
“Syukurlah Guy, ini akan laris lagi,” kataku sambil mendorong tubuh Yogaku menjauh.
“Ndi harusnya mampu cepat pulang,” jawab Yogi sambil tersenyum.

Hanya saya dan Yogi yang berjualan martabak di tempat tersebut, ini mulanya anjuran Randy, topiknya adalah Yogi yang juga teman dekat saya sekarang, terhadap dasarnya Randy puas nongkrong di kurang lebih gerobak kala saya selesai berjualan.
Sore hari selamanya berkunjung sebagaimana mestinya, hari ini massa martabak konsisten berangsur-angsur berkurang yang berarti keinginan makin lama meningkat, pelanggan bergantian antre satu per satu, memberi salam pelanggan bersama sopan dan memanjakan mereka – langkah utama yang saya pelajari.
“Kemarin Randy bilang bapaknya sakit lama, Ndi tidak sembuh-sembuh,” kata Yogi yang terpisah berasal dari klien dan akan menjenguk sore hari ini.

“Oh ya, apa yang sakit, Guy?” Aku bertanya bersama santai.
Dilihat berasal dari jauh, Randy berlangsung terlampau lambat, memegang sebatang rokok di tangannya yang lain, mendekati gerobak.
Ren, kataku.

“Hei, saya lelah, oh lihat kondisi bersama papa di rumah, di mana pekerjaan kolam lagi, panen masih lama, niatnya untuk membawa papa ke dokter,” kata Randy sambil merokok batu. . lagi.
“Ada apa, Ren, ayah?” Yogi bertanya, membersihkan bangku untuk Randy.
“Gak tau Gan, saya sakit 3 minggu. Daddy berkunjung berasal dari kebun dulu, dia baik-baik saja, anda tahu, saya puas bahagia, saya tidak sadar mengapa kakinya jadi tambah besar,” sadar Randy .

Saya cuma lihat dan tidak bertanya lagi, tiba-tiba tersedia suara adzan berasal dari Maghreb, saya tidak sadar mengapa saya tiba-tiba terasa wajib pergi ke Randy.

“Ren, apa saya juga sholat di tempat tinggalmu?” Kataku, tiba-tiba Yogi langsung menatapku heran, heran.
“Apakah di masjid umumnya tersedia Ndi juga?” – kata Yogi.

“Oke, saya selamanya bermain di rumah, saya masih seseorang yang banyak bermain di sini,” jawab Randy.
Saya terlampau puas mendengar tanggapan Randy, Randy dan saya langsung pergi ke rumahnya yang sesungguhnya tidak jauh berasal dari tempat tempat dia berjualan, didalam perjalanan saya sengaja tidak membicarakan ayahnya, lebih banyak tentang pekerjaan Randy, dan juga tentang Randy . . Saya bertanya-tanya mengapa martab saya cepat habis.

Setibanya di Randy Residence saya langsung diliputi rasa penasaran, cuma mampu menghela nafas lebih dari satu kali, menenangkan diri dan berdoa didalam hati.
“Ini Ema (Bu),” kata Randy sambil terasa seperti memasuki rumah.

“Assalamualaikum, Bu,” kataku sambil berjabat tangan dan mencium tangan ibu Randy.
“Valaikumsalam Andi, Martabaknya selamanya enak,” Randy sering bicara kepada Andi, “Terima kasih telah berkunjung ke tempat saya tinggal,” jawab ibu Randy.
“Omong-omong, teman Andi Yogi yang memiliki resep Andi barusan terbantu, alhamdulillah mba, saya mampu nyambung dan puas mampu ikutan di wilayah Maghreb,” kataku pelan bersamaan.

“Di sinilah kamar ayahmu, siapa tahu, puas melihatmu,” kata Randy sekaligus.
“Iya, Andy, Ayah sakit lama supaya dia tidak mampu bangun,” kata ibu Randy.
“Ya, Bu,” jawabku sambil menatap Randy dan Randy bersama ibunya.
Ibu Randy, selanjutnya Randy mengikutinya, dan akhirnya saya dan ayahnya masuk ke kamar.
“Astagfirullahaladzim,” kataku didalam hati, dan saya langsung lihat tubuhku dan tenang selamanya.

Ayah Randy menatapku tajam, terlebih sebab sesudah lebih dari satu detik dia menatapku sampai matanya jadi nyaris buta total, seperti orang normal.
“Hai pak, ini Andy, teman Randy, kenapa dia keluar seperti itu?” kata ibu Randy dan berupaya mencari papa Randy yang terbaring di sana.

“Oke Bu, rusa berkunjung lebih pernah sementara matahari terbenam,” kataku sambil cepat-cepat masuk ke kamar papa Randy.
“Maaf Ayah lihat ini, padahal Randy baru pertama kali melihatnya”, – kata Randy pasti saja bersama penuh penghargaan.

“Tidak apa-apa, Ren,” jawabku bersama senyum tenang, walau saya masih tidak yakin jauh di lubuk hati apa yang baru saja kulihat.

Langsung saya sholat Magrib di kamar Randy, Randy mampu ketemu dan ngobrol mirip mamanya di tengah rumah, cuma 2 rakaat dan rakaat terakhir saya terasa tersedia orang di ranjang Randy duduk, di belakang siapa saya. pria kiblat.

Menjelang akhir salat tiba-tiba seseorang menghendaki mencoba meregangkan leher saya bersama kukunya yang terlampau tajam dan panjang. Saya cuma diam-diam melanjutkan membaca puisi didalam hati, keringat mendorong tubuh saya ke bawah dan menghendaki pemberian pencipta.

“hey sial! Jangan melakukan urusanku! Aing didieu nu boga kawasa, sayang sekali saya menghendaki dipodarana!”
(heh, kamu! Jangan turut campur didalam urusanku! Aku di sini yang memiliki kekuatan, jika tidak saya akan membunuhmu!) – kata makhluk bersama tubuh besar dan perut yang terlampau bengkak, masih mengeluarkan air liur dan mata tajam meludah, meludah adalah terlampau menjijikkan.

“Kekuatan cuma punya Tuhan, kemampuan eweuh nu mahakuasa, tetapi percuma mengancam kita, percuma saya menghendaki dipodaran tiheula!”

(Kekuatan cuma punya Tuhan, tidak tersedia kemampuan Yang Mahakuasa, jika Anda mengancam, saya akan membunuh Anda terlebih dahulu) – Saya menjawab bersama mengancam dan berbalik di depan makhluk itu.
“Maaf, panas, maaf,” teriak makhluk itu kesakitan.

Aku konsisten membaca didalam hatiku, menatap makhluk itu, tatapanku menajam dan makhluk itu melolong kesakitan.

Pulanglah! Pulanglah tanpa apa-apa, tidak mampu bicara apa-apa, atau percuma saya terlampau menghendaki berada di podaran jeng nu nitah nakal semua!
(Pulanglah! Pulanglah ke mereka yang memerintahkanmu, atau saya akan terlampau membunuhmu bersama mereka yang memerintahkanmu semua), – bentakku, dan berdiri di depan makhluk itu.

“Aing ges diperintahkan oleh maehan jelama eta, saya embe hideng, jeng getikhna wajib memanggil saya aing jelama eta”
(Saya mendapat perintah untuk membunuh orang ini sebab dia dihadiahi kambing hitam, mirip seperti darahnya wajib diminum), makhluk itu menjawab, menahan penyakit dan menunjuk ke kamar papa Randy.
Dengan seluruh ketenangan saya, saya pergi ke makhluk itu dan mendorongnya menjauh, mendorong bersama sekuat tenaga!
“Ya Tuhan…” teriak makhluk itu terlampau keras.

Perlahan saya membuka mata, bersama bersama seluruh tubuhku yang penuh keringat, dan langsung meninggalkan kamar Randy. Randy dan ibunya yang duduk di area tamu terlampau terperanjat melihatku telah kenyang, apalagi basah. bersama sesudah itu terlampau banyak.

“Kali ini, Ren akan membawakanmu minuman secepatnya,” kataku terhadap Randy dan masuk ke kamar papa Randy.
“Ya, saya siap,” kata Randy, menggigil kala dia menatapku tidak sama berasal dari apa yang Randy lihat di awal.
Bahkan ibu Randy apalagi tidak berani bicara dan menyita langkah saya ke papa Randy kala dia masuk, papa Randy menatap kosong ke atap kediaman bersama, dan banyak air liur telah keluar berasal dari mulutnya. …